Beranda | Artikel
Mendidik Anak Bergantung Hanya kepada Allah
20 jam lalu

Mendidik Anak Bergantung Hanya kepada Allah ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 8 Jumadil Awal 1448 H / 19 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Mendidik Anak Bergantung Hanya kepada Allah

Tema ini sangat penting karena termasuk bagian dari akidah, sedangkan akidah merupakan fondasi utama dalam beragama. Agama Islam mencakup tiga pilar utama, yaitu akidah, ibadah, dan akhlak. Ketiganya penting, tetapi akidah adalah pilar yang paling utama karena kedudukannya sebagai fondasi.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa beliau berdakwah selama 23 tahun. Masa dakwah tersebut terbagi menjadi dua fase: 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.

Selama 13 tahun di Makkah, fokus utama ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah akidah. Adapun persoalan fikih, ibadah, dan hukum-hukum syariat baru fokus diajarkan ketika beliau berada di Madinah selama 10 tahun. Hal ini membuktikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencurahkan porsi waktu yang lebih besar untuk menanamkan akidah dibandingkan aspek lainnya.

Masa pembinaan akidah yang panjang tersebut dikarenakan akidah adalah fondasi. Sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh akan sangat mudah ambruk. Sebaliknya, bangunan yang didirikan di atas fondasi yang kuat tidak akan mudah dirubuhkan meskipun didorong oleh banyak orang. Begitulah gambaran dahsyatnya peran akidah dalam kehidupan seorang muslim.

Oleh karena itu, mendidik anak agar hanya bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan aspek akidah yang sangat krusial.

Manfaat dari penerapan akidah ini akan dipetik oleh kedua belah pihak, baik orang tua maupun anak. Orang tua mendapatkan pahala karena telah menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sementara itu, anak tidak akan kehilangan arah atau merasa bingung ketika orang tua sudah tidak ada di sisi mereka.

Banyak orang tua yang keliru dengan mendidik anak untuk selalu bergantung kepada manusia atau orang tua semata. Ketika membutuhkan sesuatu, anak dibiasakan hanya meminta kepada orang tuanya tanpa dikenalkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, perpisahan antara orang tua dan anak adalah sebuah keniscayaan, baik perpisahan yang bersifat sementara—seperti ketika anak menuntut ilmu, bekerja, atau menikah—maupun perpisahan yang bersifat selamanya karena kematian.

Jika anak tidak dibiasakan untuk bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak dini, mereka akan mengalami kebingungan dan keputusasaan saat ditinggalkan oleh orang tuanya. Atas dasar itulah, mendidik anak agar senantiasa menyandarkan diri dan bergantung hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sebuah kewajiban yang sangat penting dalam pengasuhan Islam.

Tiga Langkah Mendidik Anak Bergantung Hanya kepada Allah

Proses mendidik anak sangat bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat tiga langkah yang dapat diterapkan oleh para orang tua.

Langkah Pertama: Menjelaskan Kesempurnaan Allah

Tugas utama orang tua salah satunya adalah menerangkan kepada anak tentang betapa sempurnanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri anak agar senantiasa bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah memahami kesempurnaan-Nya dari segala aspek.

Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menandakan bahwa kasih sayang-Nya sangat sempurna.

Kasih sayang yang dimiliki orang tua terhadap anak tidak sebanding dengan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih besar.

Apabila seorang anak tidak patuh dan selalu melanggar aturan orang tua sebanyak sepuluh kali setiap hari sepanjang hidupnya, rasa kasih sayang orang tua tentu dapat berkurang atau bahkan memudar karena rasa lelah dan kecewa.

Sementara itu, manusia sering kali berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap hari sepanjang hidupnya. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap senantiasa membuka pintu ampunan dan rahmat-Nya bagi siapa pun yang ingin bertobat.

Seandainya seseorang berbuat dosa sepanjang hidupnya, kemudian bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum ajalnya tiba, maka satu pertobatan tersebut dapat menghapus seluruh dosa yang pernah dilakukannya.

Tidak ada yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penjelasan mengenai kesempurnaan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala inilah yang perlu ditanamkan kepada anak.

Selain Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim), Allah Subhanahu wa Ta’ala juga Maha Kuat (Al-Qawiyy) dan Maha Kuasa (Al-Qadir). Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat Maha Kuat (Al-Qawiyy) dan Maha Kuasa (Al-Qadir). Kekuatan serta kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat sempurna, sehingga segala hajat dan keperluan hamba-hamba-Nya pasti mampu dipenuhi.

Orang tua perlu menjelaskan hal tersebut kepada anak agar anak menyandarkan ketergantungan hanya kepada Dzat yang Maha Kuat, bukan kepada orang tua yang memiliki banyak kelemahan. Sungguh tidak tepat apabila seseorang memilih meminta bantuan kepada pihak yang lemah dan meninggalkan Dzat yang Maha Kuat.

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berbatas, sedangkan kemampuan dan kekuasaan orang tua sangatlah terbatas.

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memiliki sifat Maha Kaya (Al-Ganiiyy). Apabila seorang anak menginginkan sesuatu, baik yang bersifat materi maupun nonmateri, sedangkan orang tua sedang dalam kondisi kekurangan ataupun berkecukupan, orang tua dapat mengarahkan anak untuk memohon kepada Dzat yang Maha Kaya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seluruh alam semesta beserta isinya, termasuk surga, merupakan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekayaan orang terkaya di dunia pun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, terlebih lagi kekayaan yang dimiliki oleh orang tua.

Tujuan utama dari penjelasan mengenai kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah agar anak menumbuhkan kesadaran untuk bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang tua dapat memanfaatkan rekaman kajian mengenai Asmaulhusna dan menjadikannya agenda nonton bersama keluarga secara rutin. Kegiatan tersebut dilakukan secara aktif dengan cara mencatat materi yang disampaikan, kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama agar pemahaman mengenai kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin meresap ke dalam diri setiap anggota keluarga.

Langkah Kedua: Menceritakan Kisah Datangnya Pertolongan Allah

Langkah kedua dalam mendidik anak adalah menceritakan kisah nyata tentang datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika langkah pertama cenderung bersifat pemahaman teori, maka langkah kedua ini berada pada tataran realitas yang nyata sehingga anak dapat memahami bukti nyata dalam kehidupan dan tidak membantah.

Orang tua perlu menceritakan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya, terutama ketika menghadapi situasi yang menurut perhitungan manusia sudah tidak memiliki jalan keluar dan mustahil untuk selamat. Beberapa contoh nyata yang dapat disampaikan kepada anak meliputi kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam, Nabi Musa Alaihissalam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kisah Penyelamatan Nabi Ibrahim dari Kobaran Api

Nabi Ibrahim Alaihissalam pernah menghadapi peristiwa pembakaran. Berdasarkan hukum fisika, api memiliki sifat membakar, sehingga secara perhitungan manusia semestinya tidak ada sisa setelah api tersebut padam mengingat ukurannya yang sangat besar.

Namun, kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan ketentuan-Nya. Nabi Ibrahim Alaihissalam keluar dari kobaran api dalam keadaan sehat walafiat tanpa ada bagian tubuh atau sehelai rambut pun yang terbakar.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamatan bagi Ibrahim!`” (QS. Al-Anbiya[21]: 69)

Api sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tunduk kepada perintah-Nya. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman agar api menjadi dingin serta menyelamatkan Nabi Ibrahim Alaihissalam, api tersebut langsung mematuhinya.

Peristiwa tersebut membuktikan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya.

Menjelang detik-detik pelemparan Nabi Ibrahim Alaihissalam ke dalam kobaran api besar oleh pasukan Namrud menggunakan ketapel raksasa karena jarak yang terlalu panas untuk didekati, malaikat datang menawarkan bantuan. Nabi Ibrahim Alaihissalam menolak bantuan dari malaikat dan menyatakan bahwa dirinya hanya membutuhkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sikap tersebut mencerminkan bentuk ketergantungan hati dan tawakal yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keselamatan yang diberikan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak datang secara kebetulan, melainkan karena keimanan serta ketawakalan yang penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah situasi yang sangat mendesak.

Dalam kondisi terdesak seperti itu Nabi Ibrahim Alaihissalam masih bisa berfikir jernih, tetap mengandalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak bergantung kepada makhluk.

Kisah Penyelamatan Nabi Musa dari Kejaran Firaun

Kisah kedua yang menunjukkan pertolongan nyata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa Alaihissalam. Ketika dikejar oleh Firaun beserta bala tentara yang lengkap dengan persenjataan, Nabi Musa Alaihissalam terjebak di tepi laut tanpa jalan keluar. Berdasarkan perhitungan manusia, situasi tersebut tidak menyisakan pilihan selain tenggelam di laut atau tertangkap oleh Firaun.

Melihat kondisi tersebut, para pengikut Nabi Musa Alaihissalam merasa putus asa dan meyakini bahwa mereka akan segera tertangkap.

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

“Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, pengikut-pengikut Musa berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.`” (QS. Ash-Shu’ara[26]: 61)

Meskipun berada dalam situasi yang sangat genting, Nabi Musa Alaihissalam tetap tenang dan menjawab dengan penuh keyakinan.

قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

“Dia (Musa) menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.`” (QS. Ash-Shu’ara[26]: 62)

Nabi Musa Alaihissalam mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh ketawakalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa terlebih dahulu mendapatkan bocoran atau skenario bahwa laut akan terbelah melalui pukulan tongkatnya. Sikap tersebut lahir murni dari ketergantungan hati yang kuat hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah berada dalam kondisi yang menurut ukuran manusia sudah kehilangan harapan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Seketika itu pula laut terbelah dan membentuk jalan di bagian tengahnya yang dapat dilewati oleh Nabi Musa Alaihissalam beserta para pengikutnya dengan selamat.

Ketika Firaun dan bala tentaranya turut memasuki jalur belahan air tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk kembali memukulkan tongkatnya, sehingga air laut menutup kembali dan menenggelamkan Firaun beserta seluruh bala tentaranya. Peristiwa ini membuktikan bahwa situasi yang berada di ujung tanduk dan tampak mustahil menurut akal manusia dapat diubah menjadi kemenangan melalui pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang penuh hikmah terukir dalam sejarah ketika beliau hendak berhijrah dari Mekah ke Madinah. Rumah beliau telah dikepung oleh para pemuda bersenjata lengkap yang berniat menghalangi. Secara perhitungan manusia, keselamatan adalah hal yang mustahil.

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan dengan membuat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat keluar meninggalkan rumah tanpa terlihat oleh mereka yang telah bersiap. Pertolongan ini menunjukkan kekuasaan mutlak atas segala situasi yang sulit diterima oleh logika manusia.

Kisah tersebut patut diceritakan kepada anak-anak sebagai bentuk penanaman keyakinan bahwa situasi yang mustahil sekalipun dapat diselesaikan atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ujian kehidupan sehari-hari yang dihadapi manusia tentu tidak lebih berat daripada ujian para nabi terdahulu.

Langkah ketiga: Membiasakan Anak Memohon Kepada Allah

Langkah terakhir dalam mendidik anak adalah membiasakan mereka untuk memohon hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketergantungan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah sesuatu yang didapatkan secara instan atau serta-merta, melainkan membutuhkan proses, perjuangan, latihan, serta pembiasaan yang konsisten.

Tugas orang tua adalah melatih diri sendiri dan anak-anak untuk selalu berdoa serta memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kebutuhan, keperluan, masalah, maupun kesulitan yang dihadapi. Pembiasaan ini dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika anak mengalami sakit gigi. Sebelum membawanya ke dokter, orang tua perlu mengajari anak untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang juga merupakan bentuk rukyah mandiri.

Hal tersebut sejalan dengan pengalaman nyata ketika menghadapi sengatan lebah. Dengan membaca Surah Al-Fatihah sambil mengusap bagian tubuh yang tersengat secara berulang, rasa panas dan sakit berangsur-angsur hilang atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Praktik rukyah menggunakan Surah Al-Fatihah dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh ustadz.

Contoh lain penerapan doa dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika anak mengalami kejadian kecil seperti tangan kejepit pintu, saat menghadapi ujian sekolah, atau ketika memiliki cita-cita tertentu. Anak-anak perlu diajarkan untuk membaca doa keluar rumah serta membaca basmalah sebelum memulai ujian. Dalam segala kondisi, anak-anak harus dibiasakan untuk bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diiringi dengan ikhtiar yang nyata, seperti berobat ketika sakit dan belajar ketika menghadapi ujian, bukan hanya berpangku tangan.

Semoga kita bisa mengamalkan langkah-langkah ini. Barakallahu fiikum.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Bergantung Hanya kepada Allah” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56640-mendidik-anak-bergantung-hanya-kepada-allah/